Minggu, 03 April 2016

LAPORAN STERIL INJEKSI ASAM FOLAT

TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL
BATCH SHEET I
INJEKSI INTRAMUSKULAR

BAB I
NAMA ZAT AKTIF DAN BENTUK YANG DIGUNAKAN
1.1.Nama Zat Aktif
Asam Folat
1.2.Bentuk yang Digunakan
Serbuk

BAB II
MONOGRAFI ZAT AKTIF
ACIDUM FOLICUM
Asam Folat
Rumus Struktur/BM   : C19H19N7O6/441,40
Pemerian                     : Serbuk hablur, kuning atau jingga kekuningan tidak berbau
Kelarutan                    : Sangat sukar larut dalam air, praktis tidak larut dalam etanol (95%)P, dalam kloroform P, dalam eter P, dalam aseton P, dalam Benzen P, mudah larut dalam asam klorida encer P panas dan dalam asam sulfat encer P panas, larut dalam asam klorida P dan dalam asam sulfat P, larutan berwarna kuning sangat pucat, mudah larut dalam larutan alkali, hidroksida encer dan dalam larutan alkali karbonat encer
Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup baik, telindungi dari cahaya
Khasiat dan penggunaan: Hematopetikum


BAB III
FORMULA DAN METODA PEMBUATAN
Text Box: Natrium Folicum  0,5%
Obat suntik dalam ampul 1mL No IV


3.1. Formula



Text Box: R/ Acidum Folicum  0,5%
    Natrii Chloridum  0,8283% 
    Dinatrii Edetas  0,05% 
    Natrii Hydroxydum 0,1N ad larut
    Aqua Pro injecctionum
3.2. Formula Lengkap







BAB IV
MONOGRAFI ZAT TAMBAHAN
  1. NATRII CHLORIDUM
Natrium Klorida
Rumus Struktur/BM   : NaCl/58,44
Pemerian                     : Hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa asin
Kelarutan                    : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan dalam lebih kurang 10 bagian gliserol P, sukar larut dalam etano
l 95% P
Penyi
mpanan               : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat/Penggunaan   : Sumber ion klorida dan ion natriu
m

  1. DI
  1. NATRII EDETAS
Dinatrium adetat P
Rumus Struktur/BM   : C10H14N2Na2O8.2H2O/372,24
Pemeriaan                    : Serbuk hablur; putih ; tidak berbau ; rasa agak asam.
Kelarutan                : larut dalam 11 bagian air, sukar larut dalam etanol (95 %) P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P.

  1. NATRII HYDROXYDUM
Natrium Hidroksida
Rumus Struktur/BM   : NaOH/40
Pemerian                        : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh basah. Sangat alkalis dn korosif. Segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan                    : Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%)

  1. AQUA PRO INJECCTIONUM
Air untuk injeksi
Pemerian         : Keasaman-kebasaan, ammonium, besi, tembaga, timbale, kalsium, klorida, nitrat, sulfat, zat teroksidasi memenuhi syarat yang tertera pada aqua destilata
Penyimpanan   :dalam wadah tertutup kedap. Jika disimpan dalam wadahtertutup kapas berlemak harus digunakan dalam waktu 3hari setelah pembuatan
Khasiat/penggunaan    : Untuk pembuatan injeksi



BAB V
PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN
5.1. Perhitungan Baha
n
Diketa
hui : BM Na folat = 464,4 dan BM As.folat = 441,4
            C asam folat diperoleh dari perhitungan :
            C =  x C asam folat
               =  x 0,5 = 0,526 %
            Perhitungan tonisitas :
            Cara I
            W =
                =
                =
                =
                = 0,8283   = 8,283
Cara II
            Ekuivalensi = E x m
                               = (0,14 x 0,526) + (0,24 x 0,05)
                               = 0,0856
                Dalam NaCl fisiologis : 0,9 – 0,0856 = 0,81436  = 8,1436

5.2. Penimbangan Bahan
Bahan
Satuan Dasar
Volume Produksi
1 ml
4
Ampul
5 %
Acidum Folicum
5 mg
63 m
g
0,05% Dinatrii Edtas
0,5 mg
6,3 mg
NaCl
8,283 mg
104,3 mg






BAB VI
PROSEDUR
6.1. Sterilisasi
6.1.1 Sediaan obat
1. larutan sediaan obat diisikan kedalam ampul didalam LAF       1,1ml
2.Ampul disterilkan dengan cara sterilisasi didalam autoklaf 15 menit dengan suhu 1150C- 116 0C
6.2. Prosedur pembuatan
Didihkan 25 ml aqua pro injeksi (a.p.i) dalam beaker glass selama 10 menit (9.40 s/d 9.50), kemudian disuspensikan asam folat dalam sebagian aqua pro injeksi, ditambahkan larutan NaOH 0,1N ke dalam suspensi asam folat sampai larut. Diperlukan 58 tetes NaOH sampai larutan larut (bening).
Dilarutkan NaCl dalam sebagian aqua pro injeksi yang telah di didihkan tadi, lalu kedua campuran tersebut dicampur dan ditmbahkan larutan dinatrii edetas kemudian diambahkan aqua pro injeksi ad 12,6 ml. Larutan disaring dengan kertas saring, setelah itu larutan kemudian diisikan kedalam 4 ml @ 1,1 ml pengisisan ampul dilakukan di dalam laminar air flow (LAF).
Ampul ditutup dengan cara dilas, lalu ampul disterilisasi dengan keadaan terbalik, untuk mengetahui apakah ampul tersebut bocor atau tidak. Kemudian disterilisasi dalam autoklaf 115-116 oC selama 30 menit, lalu sediaan yang sudah disterilisasi dikeluarkan dari autoklaf dan dikemas.


BAB VII
EVALUASI SEDIAAN DAN EVALUASI LAIN
7.1. Evaluasi sediaan
7.1.1. Uji kebocoran
Setelah ampul selesai diisi dengan caian injeksi, kemudian ampul dilas. Setelah itu ampul diuji kebocoran dengan menyimpan ampul dalam keadaan terbalik sebelum dilakukan sterilisasi, sehingga ketika proses sterilisasi selesai dapat diketahui apakah ampul tersebut bocor atau tidak.
No
Jenis Evaluasi
Penilaian
1.
Penampilan fisik
Baik
2.
Jumlah sediaan
6 ampul
3.
Kejernihan
Larutan jernih
4.
Brosur
Lampiran
5.
Kemasan
Lampira
n
6.
Kebocoran ampul
Tidak ada yang bocor
7.
Etiket
Lampiran
8.
Keseragaman volume
Volume seragam

7.2. Evaluasi lain
No.
JENIS EVALUASI
PENILAIAN
1
Penampilan fisik wajah
Baik
2
Jumlah sediaan
6 ampul
3
Brosur
Lampiran
4
Etiket
Lampiran
5
Keseragaman volume
Volume seragam

BAB VIII
ASPEK FARMAKOLOGI
Indikasi
Penggunaan folat yang rasional adalah pada pencegahan dan pengobatan defisiensi folat. Harus diingat bahwa penggunaan secara membabi buta pada pasien anemia pernisiosa dapat merugikan pasien, sebab folat dapat memperbaiki kelainan darah pada anemia perrnisiosa yanpa memperbaiki kelainan neurologic sehingga dapat berakibat pasien cacat seumur hidup.
Kebutuhan asam folat meningkat pada wanita hamil, dan dapat menyebabkan defisiensi asam folat bila tidak atau kurang mendapatkan asupan asam folat dari makannya. Beberapa penelitian mendapatkan adanya hubungan kuat antara defisiensi asam folat pada ibu dengan insidens defek neural tube, seperti spina bifida dan anencefalus, pada bayi yang dilahirkan. Wanita hamil membutuhkan sekurang - kurangnya 500μg asam folat perhari. Seplementasi asam folat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, untuk mengurangi inisiden defek neural tube.
Gejala defisiensi folat yang paling menonjol adalah hematopoesis megaloblatik (yang menyerupai anemia defisiensi vitamin B12). Selain itu, terjadi juga glositis, diare, dan penurunan berat badan. Perbedaan klinik yang nyata defisiensi folat dengan defisiensi vitamin B12 ialah bahwa pada yang pertama tidak terdapat kerusakan sarung myelin sehingga tidak ada gangguan neurologic. Hal ini dapat diterangkan dengan sifat folat yang secara selektif dapat menumpuk dalam cairan serebrospinal, tetapi akibat gangguan metabolismeotak pasien dapat menunjukan gejala insomnia, pelupa, dan iritabilitas.


Kontra Indikasi
Tidak diindikasikan untuk anemia pernisiosa dan anemia megaloblastik lain karena defisiensi vitamin B12. Jangan gunakan pada pasien tidak terdiagnosa anemia karena asam folat mungkin dapat mengaburkan diagnosis anemia pernisiosa dengan mengurangi manifestasi hematologi sementara kemungkinan progress atau dapat mengembangnya komplikasi neurologis.

Dosis
·         Anemia megaloblastik:
Ö Dewasa dan anak > 1 tahun : 5 mg sehari selama 4 bulan (pada wanita hamil, hingga cukup bulan). Pada kasus gangguan penyerapan, dosis bisa dinaikan hingga 15 mg per hari; dosis rumatan 5 mg tiap 1-7 hari.
Ö Anak < 1 tahun: 500 mikrogram/kg per hari selama 4 bulan; dosis rumatan 500 mikrogram/kg per hari tiap 1-7 hari.

·         Pencegahan defek tabung saraf, diberikan sebelum dan selama kehamilan:
Ö Risiko rendah 400 mikrogram per hari hingga usia kehamilan 12 minggu.
Ö Risiko tinggi (riwayat keluarga, pernah melahirkan anak dengan efek tabung saraf, riwayat diabetes mellitus pada ibu, anemia sel sabit pada ibu): 5 mg per hari hingga usia kehmilan 12 minggu.

·         Profilaksis pada status hemolitik kronik:
Ö Dewasa, per oral: 5 mg tiap 1-7 hari tergantung penyakit yang mendasari

·         Profilaksis defisiensi folat pada pasien cuci darah:
Ö Dewasa, per oral: 5 mg tiap 1-7 hari
Ö Anak 1-12 th: 250 mikrogram/kg (max 10 mg) 1x sehari
Ö Anak 12-18 th: 5-10 mg 1x sehari

Efek Samping
Perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, iritabilita, aktivitas berlebih, depresi mental, anoreksia, mual, distensi abdominal dan flatulensi.

Interaksi Obat
Administrasi fenitoin, primidone, barbiturat, methotrexate, nitrofurantoin, alkohol, atau pirimetamin dapat mengakibatkan defisienci asam folat.

Cara Penggunaan dan Penyimpanan
Penggunaan injeksi secara intramuscular. Penyimpanan pada suhun 15-30ºC.

Absorpsi, Distribusi, Metabolisme dan Ekskresi (ADME)
·         Absorpsi
Pada pemberian oral, absorbsi asam folat baik sekali, terutama di bagian 1/3 proksimal usus halus (jejunum proksimal). Dengan dosis oral yang kecil, absorpsi memerlukan energi (transpor aktif), sedangkan pada kadar tinggi absorbsi dapat berlangsung secara difusi (transpor pasif). Asam folat muncul di plasma darah 15-30 menit setelah pemberian per oral dan T max tercapai setelah 1 jam.
Ikatan Protein : 2/3 dari asam folat yang terdapat dalam plasma darah terikat pada protein yang tidak difiltrasi ginjal.

·         Distribusi
Distribusinya merata ke semua sel dan terjadi penumpukan dalam cairan serebrospinal. Asam folat disimpan oleh tubuh terutama di hepar. Normal total asam folat di serum adalah 5-15 ng/mL, di cairan serebrospinal adalah 16- 21 ng/mL, dan di eritrosit adalah 175 to 316 ng/mL.

·         Metabolisme
Asam folat dimetabolisme di hepar oleh enzim Catechol O-methyltransferase (COMT) dan Methylenetetrahydrofolate reductase menjadi 7,8-dihydrofolic acid dan 5,6,7,8-tetrahydrofolic acid.

·         Ekskresi
Lebih dari 90% asam folat diekskresikan di urine dalam bentuk metabolit dan sejumlah kecil diekskresikan di feces. Sebagian besar metabolit muncul di urine setelah 6 jam dan ekskresi lengkap dalam 24 jam. Asam folat juga dieksresikan melalui air susu ibu.







BAB IX
PEMBAHASAN
Pada praktikum teknologi formulasi sediaan steril kali ini dilakukan pembuatan sediaan parental berupa injeksi dengan zat aktif yang digunakan yakni asam folat. Sediaan parenteral diberikan melalui beberapa rute yaitu, intravena, intraspinal, intarmuscular, subkutis, dan intradermal. Rute yang digunakan pada sediaan perenteral kali ini yaitu rute intramuscular. Sediaan parenteral selain harus steril, juga tidak boleh mengandung partikel yang memberikan reaksi pada pemerian dan tidak boleh mengandung pirogen. Dalam proses pembuatan sediaan steril, sterilisasi dapat dilakukan dengan cara pemanasan pada tahap akhir.
Sebelum praktikum, dilakukan perhitungan tonisitas terlebih dahulu yang berdasarkan kepada metode turunnya titik beku. Perhitungan tonisitas ini bertujuan agar larutan obat atau injeksi memiliki tonisitas yang sama dengan tonisitas cairan tubuh kita diantaranya yaitu darah. Dari hasil perhitungan tonisitas diperoleh hasil sebesar 0,8283% yang menunjukkan bahwa sediaan injeksi ini merupakan sediaan hipotonis. Akan tetapi menurut ketentuan yang berlaku, sediaan hipotonis tidak diizinkan dalam pembuatan sediaan injeksi karena akan mengakibatkan sel darah merah menjadi lisis atau pecah dan hal ini akan sangat berbahaya bagi penggunanya. Oleh karena itu diperlukan penambahan NaCl yang bertujuan agar sediaan ini dapat mencapai keadaan isotonis.
Pada awalnya semua bahan ditimbang, yakni asam folat sebanyak 63 mg, dinatrii edetas 6,3 mg dan NaCl sebanyak 104,36 mg. Kemudian dididihkan aqua pro injeksi (a.p.i) dalam beaker glass selama 10 menit. Aqua pro injeksi merupakan air untuk injeksi yang disterilisasi dan di kemas dengan cara yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya. Aqua pro injeksi harus di panaskan terlebih dahulu agar terbebas dari CO2, karena CO2 dalam suatu sediaan dapat bereaksi dengan salah satu zat dan dapat membentuk endapan. Sedangkan salah satu syarat sediaan injeksi adalah jernih, maka dari itu aqua pro injeksi yang digunakan haruslah terbebas dari CO2. Kemudian asam folat yang telah ditimbang selanjutnya disuspensikan dalam sebagian aqua pro injeksi. Lalu diteteskan larutan NaOH kedalam suspensi asam folat sampai asam folat terlihat melarut. Pada saat praktikum, NaOH yang digunakan sebanyak 50 tetes. Penambahan NaOH ini tujuannya untuk melarutkan asam folat karena akan terbentuk garam dari asam folat yaitu natrium folat yang lebih mudah larut dalam air. Penambahan larutan NaOH ini perlu dilakukan karena syarat dari larutan steril ini adalah semua komponen harus larut dalam air sedangkan asam folat tidak larut dalam air sehingga perlu dilakukan reaksi penggaraman untuk meningkatkan kelarutannya.
Kemudian tahap selanjutnya pada wadah terpisah, NaCl dilarutkan dalam sebagian aqua pro injeksi. Ditambahkan larutan NaCl yang berfungsi sebagai larutan pengisotonis. Isotonis adalah kondisi dimana suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah sehingga tidak akan terjadi pertukaran cairan diantara keduanya. Oleh karena itu dilakukan penambahan NaCl sebanyak 0,8283% untuk mencapai nilai isotonis. Lalu kedua larutan tersebut dicampurkan. Kedalamnya ditambahkan larutan dinatrii edetas atau EDTA. Digunakan EDTA sebagai pengkelat untuk mengikat ion logam-logam yang berasal dari wadah gelas, selain itu wadah gelas berkapur dapat membebaskanlogam yang dapat mengkatalisis hidrolisis zat aktif menjadi tidak stabil, oleh karena itu ditambahkan dinatrii edetas pada sediaan injeksi asam folat ini. 
Larutan tercampur tersebut ditambahkan dengan aqua pro injeksi sampai tanda batas 15 ml untuk kemudian disaring dan filtrat pertama dibuang. Proses penyaringan ini berfungsi untuk mensterilkan larutan dari mikroba karena mikroba yang terdapat dalam larutan akan tertahan pada filter sehingga tidak ikut terbawa. Filtrat pertama harus dibuang karena filtrat pertama mengandung kotoran yang sebelumnya terdapat pada filter.
Dari larutan jernih yang didapat, maka dimasukkanlah ke dalam 6 ampul dengan masing-masing volume 1,1 ml. hal ini dilakukan didalam LAF (Laminar Air Flow) yang bertujuan agar proses pengerjaan benar-benar steril dan sediaan yang dibuat dapat terhindar dari adanya pirogen. Pengisian ampul dilebihkan sebanyak 0,1 mL dimaksudkan untuk mengantisipasi adanya larutan yang tidak terambil atau hilang pada saat pengerjaan ampul atau dengan kata lain volume dalam ampulnya akan berkurang. Selanjutnya adalah proses penutupan dari ampul dengan mengelas bagian kepala ampul.
Kemudian sediaan injeksi asam folat ini disterilkan dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121ºC selama 15 menit. Proses sterilisasi ini dilakukan untuk membunuh mikroba yang tidak tersaring dan masih terdapat pada sediaan sehingga diperoleh sediaan yang steril. Pada proses sterilisasi ini juga dapat terlihat apabila ada ampul yang bocor maka isi dari ampul tersebut akan habis (menguap). Dari hasil sterilisasi ini didapatkan bahwa dari 6ampul yang ada, hanya 1 yang bocor. Maka dihasilkan 5 buah ampul dalam keadaan baik sesudah disterilisasi. Evaluasi selanjutnya adalah pengevaluasian keseragaman volume akan tetapi hanya menggunakan indra penglihatan saja.
Dari sediaan yang telah dibuat, dapat dilihat bahwa volume masing-masing ampul adalah seragam. Maka dilakukan evaluasi, diantaranya evaluasi kejernihan. Evaluasi kejernihan yaitu dengan melihat apakah sediaan yang dibuat benar-benar jernih atau masih ada partikel-pasrtikel zat yang belum homogen. Dari hasil evaluasi kejernihan ini adalah semua larutan dalam ampul memiliki kejernihan yang baik.
Proses sterilisasi ini dilakukan untuk membunuh mikroba yang tidak tersaring dan masih terdapat pada sediaan sehingga diperoleh sediaan yang steril. Setelah dilakukan sterilisasi, ampul yang bocor dipisahkan dengan yang tidak bocor. Cirinya ampul tersebut bocor adalah apabila jumlah sediaan dalam ampul berkurang. Pengurangan ini akibat dari panas yang dapat menguapkan larutan didalamnya dan apabila ampul bocor, uap akan keluar sehingga jumlah sediaan berkurang.




















BAB X
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pada injeksi asam folat diperlukan penambahan zat pengisotonis yaitu NaCl sebanyak 0,8283 % atau 0,8283g/100ml. Jumlah ampul yang pada pembuatan injeksi asam folat ini yaitu 6 ampul, 5 diantaranya bagus dan 1 ampul bocor. Dan sebanyak 5 ampul secara visual merupakan sediaan yang telah dibuat memenuhi syarat kejernihan.















BAB XI
ETIKET DAN LABEL
PT. DIFTI
Jl. Soekarno Hatta No. 354 Parakan Resik
Description: C:\Users\asus\Downloads\download.png
 
No. Batch : B201301
                     FOLAMIL
                                Ampul 1 ml
                                Injeksi intramuscular
Mengandung :
Na folat 0,526% yang setara dengan asam folat 0,5 %
Exp. Date : 1 Maret 2017
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. DIFTI
Jl. Soekarno Hatta No. 354 Parakan Resik
Description: C:\Users\asus\Downloads\download.png
 
No. Batch : B201301
                     FOLAMIL
                                Ampul 1 ml
                                Injeksi intramuscular
Mengandung :
Na folat 0,526% yang setara dengan asam folat 0,5 %
Exp. Date : 1 Maret 2017
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. DIFTI
Jl. Soekarno Hatta No. 354 Parakan Resik
Description: C:\Users\asus\Downloads\download.png
 
No. Batch : B201301
                     FOLAMIL
                                Ampul 1 ml
                                Injeksi intramuscular
Mengandung :
Na folat 0,526% yang setara dengan asam folat 0,5 %
Exp. Date : 1 Maret 2017
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. DIFTI
Jl. Soekarno Hatta No. 354 Parakan Resik
Description: C:\Users\asus\Downloads\download.png
 
No. Batch : B201301
                     FOLAMIL
                                Ampul 1 ml
                                Injeksi intramuscular
Mengandung :
Na folat 0,526% yang setara dengan asam folat 0,5 %
Exp. Date : 1 Maret 2017
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. DIFTI
Jl. Soekarno Hatta No. 354 Parakan Resik
Description: C:\Users\asus\Downloads\download.png
 
No. Batch : B201301
                     FOLAMIL
                                Ampul 1 ml
                                Injeksi intramuscular
Mengandung :
Na folat 0,526% yang setara dengan asam folat 0,5 %
Exp. Date : 1 Maret 2017
HARUS DENGAN RESEP DOKTER













BAB XII
KEMASAN DAN BROSUR




BAB XIII
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Farmakologi dan Terapeutik. 2007. Farmakologi dan Terapi edisi 5.               UI-press. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia edisi 3. Farmakope Indonesia. 1979.Jakarta : DEPKES RI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia edisi 4. Farmakope Indonesia. 1979.Jakarta : DEPKES RI.